Saturday, February 9, 2013

SEORANG BHIKKHU YANG BAHAGIA – KEBENARAN MULIA KETIGA: AKHIR DUKKHA

Suatu ketika terdapat seorang pemuda yang kaya raya dan memiliki kedudukan yang tinggi.Dia menyadari bahwa penderitaan akan dialami oleh semua orang kaya maupun miskin.Jadi dia memutuskan untuk menjadi seorang bhikkhu untuk berlatih meditasi.Dia selalu tersenyum berbahagia dalam kehidupan sucinya.Suatuketika biksu tadi melewati sebuah kerajaan.Raja kerajaan itu hendak mengundang biksu tersebut. Namun si raja merasa terhina melihat biksu tersebut tidak menyadari kedatangan raja dan hanya tersenyum.

Melihat ketidaksenangan si raja, seorang biksu tua berkata: “Bersabarlah, rajaku, dan saya akan mengatakan sebab mengapa dia berbahagia. Tidak banyak orang yang mengetahuinya.Dulu dia juga seorang raja seperti halnya dirimu.Tapi setelah meninggalkan kerajaannya dan memutuskan menjadi seorang biksu, dia menemukan kebahagiaan yang dia cari-cari.Duduk sendirian di dalam hutan, dia tidak memiliki rasa takut dan tidak perlu dikawal oleh para penjaga.Dia telah menemukan kedamaian dalam meditasi. ”Sang raja akhirnya menyadari apa arti sesungguhnya dari kebahagiaan. (What Should We Know About Buddhism, by : Upa. Sasanasena Seng Hansen)

Friday, February 8, 2013

Etika Dalam Filsafat Yunani Klasik

Sebagai refleksi terhadap moralitas prilaku manusia, etika mempunyai tradisi yang panjang sejak era Yunani klasik, pemikiran Barat abad pertengahan dan Renaissance, sampai kepada kearifan lokal masing-masing budaya.
Dewasa ini minat terhadap etika tidak berkurang. Orientasi praktis dari etika berlangsung terus, Thomas Aquinas melanjutkan tradisi filsafat praktis dengan teologi moral, David Hume dengan perasaan moral, Imanuel Kant menghubungkannya dengan akal budi non intervensi indrawi, pada Jeremy Bentham etika praktis (hedonisme kuantitas) menjadi tujuan hukum, dan lain sebagainya.  Hal-hal  ini terutama tampak dalam etika terapan. Salah satu ciri khas etika terapan adalah kerjasama erat antara etika dengan ilmu-ilmu lain karena etika terapan tidak dapat dijalankan dengan baik tanpa pendekatan multidisipliner. Masalah-masalah etika ini sudah mengembang ditimbulkan lajunya ilmu pengetahuan dan teknologi, misal, soal bayi tabung, rekayasa genetik, sampai kepada penggunaan senjata nuklir. Istilah etika terapan yang terkesan baru sebenarnya sudah dicakup dalam filsafat moral sejak zaman Plato maupun Aristoteles. Etika ditekankan pada tingkah laku manusia, misal, apa yang harus dilakukan ? dan apa yang tidak boleh dilakukan ?.
Sebelum membahas mengenai teori dan pemikiran etika, perlu dilakukan penjernihan istilah terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan etika ?!
Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani kuno “ethos”. Kata ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti : tempat tinggal yang biasa, kebiasaan, watak, adat, sikap maupun cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta eta) artinya adalah : adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah yang melandasi terbentuknya istilah “etika” yang  oleh filsuf besar Aristoteles dihubungkan dengan filsafat moral. Kata moral yang berasal dari bahasa Latin (mores) merupakan  kata yang dekat dengan etika. Jadi kata ini  secara etimologis berarti teori tentang moral atau pemikiran tentang moralitas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) etika  dijelaskan dengan membedakan tiga arti : (1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral; (2) kumpulan asa atau nilai yang berkenaan dengan moral; (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Ketiga pengertian etika diatas membawa konsekuensi : (1) etika yang diamalkan dapat menjadi ilmu bilamana direfleksikan dalam sistematisasi dan metodologi tertentu; (2) etika dapat berarti sebuah peraturan tertentu sejenis kode etik; (3) etika sebagai sebuah sistem nilai dalam masyarakat dan tentunya berhubungan dengan aspek-aspek kebudayaan.
Disamping itu “etika” juga dibedakan dengan “etiket”. Yang belakangan ini berasal dari kata bahasa Inggris “etiquette” yang berarti sopan santun. Sebagaimana etika, etiket menyangkut prilaku manusia dan mengatur prilaku manusia secara normatif, artinya mengandung kaedah apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan manusia. Kedua istilah ini sering dicampuradukkan padahal sejatinya memiliki perbedaan yang mendasar : etika mengatur norma suatu perbuatan, etiket mengatur cara pantas dilakukannya perbuatan itu, etika berlaku umum berangkat dari kesadaran diri, etiket hanya untuk pergaulan, etika umumnya bersifat lebih absolut, sedangkan etiket bisa berbeda-beda, etika berangkat dari batin manusia, sedangkan etiket hanya melihat sisi lahir manusia.          
Dalam sejarah filsafat terdapat banyak sistem etika, yakni uraian-uraian sistematis tentang hakikat moralitas dan peranannya dalam hidup manusia. Pertanyaan kunci yang mendasari berkembangnya tema ini ialah : Bagaimana orang bijak menjalani hidupnya ? Jawaban yang diberikan ialah terkait dengan kebahagiaan, keutamaan moralitas ialah menangani kehidupan dan mengarahkannya kepada kebahagiaan. Lantas bagaimanakah kebahagiaan itu ?
A. Teori Hedonisme, teori yang diajarkan Epikuros ini menunjukan bagaimana manusia dapat hidup sebahagia mungkin dalam kehidupan yang banyak guncangannya. Teori yang juga disebut ‘kebahagiaan kecil’ ini mengatakan orang bijaksana menghindar dari keresahan dan perasaan yang menyakitkan serta menikmati kesenangan-kesenangan yang menawarkan diri. Inti dari pengajaran hedonisme yakni manusia harus hidup sebagaimana mungkin dengan maksimalisasi kesenangan dan minimalisasi penderitaan.
Menurut Epikuros manusia perlu berusaha dua arah, kesenangan yang sebanyak mungkin juga harus dinilai dengan penghilangan keresahan sekecil apapun, di satu sisi manusia harus hidup seadanya, dilain pihak ia harus memakai pemikirannya untuk membebaskan diri dari ketakutan-ketakutan yang tidak perlu (misal, takut terhadap kematian, takut terhadap dewa-dewi). Pada dasarnya manusia hanya memerlukan dua hal untuk hidup bahagia, kebebasan dari rasa sakit jasmani dan bebas dari keresahan batin, yakni manusia yang sehat dan tenang jiwanya.
B. Eudemonisme, Prinsip dasar etika Aristoteles ini mengajarkan perealisasian potensi manusia dalam hidup dan bertindak. Paham eudemonisme atau kebahagiaan menurut Aristoteles bukan hidup mencari kekayaan dan mencari nama besar, juga kebahagiaan tidak dapat dihubungkan dengan kuantitas nikmat. Dua nilai yang pertama ditolak Aristoteles karena keduanya hanyalah nilai instrumental (sementara) bukanlah nilai yang ada pada dirinya sendiri, kekayaan dicari demi hasrat dan kebutuhan, nama besar dicari demi sifat yang menjadi sebab orang bernama besar. Adapun nikmat jika dijadikan tujuan hidup adalah ciri khas binatang. Nikmat itu pada dirinya sendiri tidaklah buruk, tetapi bukan tujuan. Nikmat dirasakan kalau suatu kecenderungan (perlu makan-minum, seks) atau usaha (mencari kebenaran, memecahkan masalah) berhasil. Maka bukan nikmat melainkan usaha itulah tujuannya.
Dalam falsafah Aristoteles, kebahagiaan adalah pengembangan diri, mengaktualisasi potensi dan bakat-bakat. Manusia akan bahagia jika membuat nyata sesuatu yang awalnya adalah kemampuan. Konsep kebahagiaan Aristoteles dilandaskan pada ciri khas manusia yakni logos atau akal budi dan sifat sosialnya. Kebijaksanaan tertinggi ialah manusia (sebagai makhluk filsuf dan makhluk politis) bukanlah dapat dipelajari seperti orang belajar ilmu pengetahuan, melainkan berkembang melalui pengalaman, komunikasi, refleksi.
Perlu digarisbawahi disini, bahwa Aristoteles dan tradisi para filsuf Yunani tidak  ‘memasuki’ ke alam kebahagiaan dalam arti modern, yaitu kebahagiaan subyektif (merasa bahagia). Dengan kebahagiaan dimaksudkan keadaan manusia sedemikian rupa, sehingga segala sesuatu yang seharusnya ada memang ada padanya.
Pada intinya dalam falsafah Aristoles keutamaan manusia terletak dari proses memfungsikan dirinya, dan fungi manusia ialah logos  atau akal budi dan sifat sosial manusia. Dengan kedua fungsi itu menghasilkan dua macam keutamaan. keutamaan intelektual dan keutamaan moral. Kebijaksanaan (phronesis) ialah perbuatan moral yang bersumber pada penalaran intelektual. Kebijaksanaan praktis ialah bagaimana manusia secara etis dan politis memilih ‘jalan tengah’[1] antara dua ekstrem dalam situasi konkret. Sekurangnya ada 11 keutamaan yang dibahas Aristoteles : keberanian, penguasaan diri, kemurahan hati, kebesaran hati, budi luhur, harga diri, sikap lemah-lembut, keberadaban, kejujuran, persahabatan, dan keadilan. (Yusuf Zainal) 


[1] Keseimbangan antara sifat-sifat, misal keberanian merupakan jalan tengah dari pengecut dan nekat, murah hati merupakan jalan tengah dari pemborosan dan kekikiran, dlsb.

Sunday, January 13, 2013

Jinyologi



Jinyologi atau ilmu seputar novel-novel Jinyong, tokoh-tokohnya, alur cerita, tempat menarik dan serba jinyong pokoknya. Istilah ini digunakan sekelompok cersilers ketika mereka mengklasifikasikan sejumlah novel-novel. Banyak penggemar jinyong yang menyusun berdasarkan beberapa kategori, misal tokoh -tokoh wanita cantik, pendekar-pendekar, orang hebat, wanita menarik, dan sebagainya.
Novel jinyong bermuatan karya sejarah, kaya dengan khazanah ilmu, kebudayaan Tiongkok pada umumnya dan sedikit Asia Timur. Kreasi jinyong hebatnya memperhatikan banyak unsur sehingga tidak membosankan layaknya menulis ulang sejarah ataupun malah mempermainkan sejarah seenaknya. Jinyong amat memperhatikan logika pada setiap kejadian, berkreasi dengan sejumlah tokoh fiktif yang justru menjembatani fakta sebagai pembungkus novelnya. Hal ini seolah-olah ia telah menulis legenda, padahal legenda merupakan cerita turun-temurun yang diyakini oleh suatu masyarakat, jadinya bukan hasil karangan satu orang. 
Dunia fakta dan fiksi bertemu dalam novel Jinyong, saya akan ambil contoh, dalam cerita Pangeran Menjangan Wei Xiaubo (Wi Siaupo) yang berteman dekat dengan Kaisar Konghi dari dinasti Qing (Manchu), ia mendapatkan banyak anugerah-pangkat, bahkan diutus menjadi negosiator masalah perbatasan kerajaan Qing dengan kekaisaran Russia, disaat itu Wei Xiaubo diceritakan sebagai orang yang paling berpengaruh dalam hal itu-tentu saja karena kedekatannya dengan kaisar- namun jangan lupa dalam perundingan dengan Russia, masih ada pejabat dinasti Qing yang memangku jabatan formal (sekelas menteri) dan ini merupakan tokoh nyata dalam sejarah. Jadi jika ia menulis Wei Xiaubo beristri 6, 7 bahkan 9 hal ini masih dalam batas cerita fiksi yang sah-sah saja, tapi jika ia menulis Wei Xiaubo memimpin perang dengan Russia, nah ini kebablasan namanya. Dalam contoh lain seperti kasus kematian RajaMongko dalam Kembalinya Pendekar Rajawali, ia terkena sentilan bunga persik dari Yang Guo (Yoko) yang mengejarnya dalam babak akhir peperangan di Xiangyang, serupa dengan kisah nyata, Raja Mongko mangkat di Xiangyang hanya saja tidak diketahui pasti apakah sebab kecelakaan atau dibunuh, apa ia terantuk atau dilempar batu. Jinyong pastinya tahu betul pentingnya semua hal ini.
Seringkali kita membaca sebuah novel baik novel sejarah maupun mencuplik peristiwa kesejarahan, tapi ironisnya penulis novel itu tidak mengingat betul nama-nama tempat maupun jarak, nama-nama tokoh sejarah tidak jelas bahkan simpang siur dengan tokoh lain-Yang saya maksud disini fakta-fakta sejarah umum bukan tafsiran sejarah yang bisa berbeda- seseorang tidak mungkin memalsukan perang antara kedua negeri, bencana alam yang menimpa ataupun penguasa yang berkuasa dalam sebuah wilayah tertentu karena dengan demikian jelaslah sebuah novel yang menyimpang dari pakem ini hanyalah memaksakan menulis sejarah padahal tidak ada sejarahnya dan untuk semua itulah saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Jinyong. Salah satu diantara sedikit penulis yang mampu meramu fakta dan fiksi dengan baik.
Sebagai catatan, yang saya apresiasikan dari novel jinyong tidak termasuk pada adaptasinya baik film maupun serial Tv. Adaptasi hanyalah sebuah upaya menafsirkan karya novel dan bukan ukuran untuk menilai yang pas, bahkan dalam beberapa hal justru terjadi penyingkatan yang mengurangi ‘greget’ roh khas dari Jinyong apalagi pengelaborasian yang tidak perlu, di mana yang terakhir ini  membuat ‘blur’ . Sekali lagi, sumber penilaian adalah karya Jinyong sendiri, yang otentik bukan yang dinisbatkan kepadanya.
Dalam kaitan ini, mengapresiasikan kegemaran saya, saya bermaksud menyusun daftar-daftar Jinyologi per-kategori :
1. Novel terbaik
2. 15 wanita tercantik
3. 15 pendekar terhebat
(tulisan ini akan terus di update)

Monday, December 24, 2012

*KONSEP HAK MILIK KELUARGA DAN SISTEM SOSIAL DALAM KAITANNYA DENGAN KEADILAN DAN KEMAKMURAN

1.MASALAH PERTANGGUNGJAWABAN PERDATA

       Sebagai bagian dari hukum pada umumnya, hukum perdata juga bertujuan mengatur , sehingga didapati masyarakat yang damai dan adil. Hukum perdata menentukan bahwa didalam perhubungan antara orang, harus menundukan diri kepada apa saja kaidah yang harus diindahkan. Dalam hal ini hukum perdata memberikan wewenang-wewenang di satu pihak  dan di lain pihak ia membebankan kewajiban-kewajiban yang pemenuhannya-jika perlu dapat dipaksakan dengan bantuan penguasa.

            Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak, mulai dari saat ia dilahirkan dan berakhir pada saat ia meninggal. Malahan jika perlu untuk kepentingannya, dapat dihitung surut hingga mulai orang itu berada di luar kandungan, asal saja ia kemudian dilahirkan hidup.

            Suatu perbuatan hukum hanya dapat memperoleh akibat hukum yang dimaksud secara lengkap, bilamana ia memenuhi syarat-syarat yang diadakan oleh hukum. Jika syarat-syarat diatas tidak dipenuhi, perbuatan itu lantas dapat diganggu gugat, yaitu dalam arti, bahwa perbuatan itu lantas adalah batal secara mutlak (perbuatan itu mulai ketika itu juga dan dalam keadaan apapun, tidak memperoleh efek hukum yang dituju, sedangkan setiap orang dapat memakai kebatalan itu dalam suatu gugatan) atau ia adalah batal secara nisbi.

            Batal secara nisbi ialah : kebatalannya hanya ada bilamana dan sekedar itu diminta oleh orang-orang tertentu. Di samping dua jenis kebatalan ini ada lagi yang disebut hal yang dapat dibatalkan : perbuatannya bagaimana juga memperoleh akibat hukum yang dimaksud, tetapi atas gugatan orang-orang tertentu dan untuk kepentingan orang-orang tersebut perbuatan tersebut dapat dinyatakan batal oleh hakim.

            Kecakapan dalam berbuat itu bisa dibedakan menjadi ;

a. kecakapan berbuat yang umum, dan
b. yang khusus

            Kecakapan berbuat yang umum adalah kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum dalam umumnya, sedangkan kecakapan berbuat yang khusus ialah kecakapan untuk berbuat suatu perbuatan hukum jenis tertentu saja.

            Yang dimaksud dengan pertanggungjawaban perdata ialah segala perbuatan hukum dalam lingkup privat (hak-hak dan kewajiban-kewajiban) yang memenuhi syarat-syarat perbuatan hukum dan dikerjakan oleh orang yang cakap.

2.PERKEMBANGAN PENGERTIAN HAK MILIK DALAM HUBUNGAN DENGAN KEADILAN DAN KEMAKMURAN

Sebagai makhluk sosial yang merdeka, setiap orang mempunyai berbagai macam hak untuk menjamin dan mempertahankan kehidupannya ditengah-tengah masyarakat. Hak ialah peranan bagi seseorang atau suatu pihak (pemegangnya) untuk bertindak atas sesuatu yang menjadi obyek dari obyeknya itu terhadap orang lain. Hak yang dipunyai seseorang itu pada dasarnya dapat kita bedakan atas dua jenis utama yang bila dipandang menurut sifatnya, yakni :

1. Hak yang bersifat asasi, yaitu hak yang harus ada pada setiap orang untuk dapat hidup sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat selaras dengan martabatnya sebagai pribadi yang terhormat.

2. Hak yang tidak bersifat asasi, yaitu hak yang secara wajar boleh dimiliki oleh seseorang atau suatu pihak karena hubungannya yang khusus dengan orang atau pihak lain pada suatu tempat dan waktu tertentu serta situasi dan kondisi yang dianggap tepat.  

Perbedaan antara kedua hak diatas, ialah, hak asasi merupakan hak yang tidak dapat dikesampingkan dari seseorang dalam keadaan bagaimanapun sedangkan hak yang tidak asasi, ialah hak yang masih dapat dikesampingkan karena adanya suatu atau beberapa kepentingan yang lebih memaksa. Contoh hak yang tidak asasi misalnya, segala hak yang dapat diperoleh berdasarkan hukum tetapi masih dapat juga diganggu gugat (dalam arti dibatasi ataupun dihapus sama sekali) melalui hukum itu sendiri bila ada satu atau beberapa kepentingan yang lebih memaksa, yang antara lain adalah kepentingan umum.

Karena ‘hak’ berarti peranan tetapi yang boleh, jadi tidak harus dilaksanakan (opsional). Berdasarkan rumusan diatas, hak milik ialah peranan seseorang atau suatu pihak untuk memiliki sesuatu dan bertindak atas sesuatu yang menjadi miliknya itu. Unsur kedua dalam hak ialah unsur ‘milik’. Tentu saja yang menjadi obyek dalam hal ini merupakan kebendaan (termasuk di dalamnya hewan dan tumbuhan) yakni hak yang obyeknya benda atau yang dipersamakan dengan benda.

Sebagai salah satu dari sekian banyak hak kebendaan, hak milik seperti yang telah kita ketahui merupakan hak kebendaan yang terkuat dan terpenuh diantara hak-hak kebendaan lainnya. Dikatakan demikian karena pemegang hak milik dapat berbuat apa saja terhadap barang miliknya itu, misalnya baik memakai, menguasai sendiri ataupun menjual, menyewakan, meminjamkan kepada pihak lain atau mengusahakan orang lain bertindak atas namanya dan atas kehendaknya terhadap benda miliknya tersebut untuk mewakili dirinya sebagai pemegang hak milik atas benda yang bersangkutan. Bahkan sampai merusakkan atau memusnahkan benda miliknya tersebut pun secara yuridis tidak terlarang sepanjang perusakan atau pemusnahan tersebut tidak mengganggu ketertiban dan tidak merugikan orang lain.

Disamping itu pula hak milik adalah satu-satunya hak kebendaan yang langgeng. Akibatnya setiap orang dapat sampai kapanpun bahkan seumur hidup menikmati manfaat harta benda yang telah menjadi miliknya sepanjang hak milik atas benda itu tidak dialihkan kepada orang lain. Bahkan bila orang tersebut telah meninggal dunia sekalipun, hak milik atas segala harta benda yang ditinggalkannya dengan sendirinya beralih kepada ahli warisnya. Karena itulah maka hak milik merupakan pula satu-satunya hak yang dapat diperoleh dengan satu langkah pengorbanan saja, yakni usaha untuk mendapatkan benda-benda yang hendak dimiliki tersebut pada awal suatu pemilikan pada umumnya.

Menurut ajaran sejarah tentang hak milik, pada awal mulanya hukum tidak mengenal adanya hak milik pribadi atau perorangan atas benda apapun juga. Segala benda yang ada pada waktu itu semuanya dianggap sebagai hak milik bersama para anggota masyarakat secara merata. Karena itu setiap benda dikatakan juga ’res nulius’ yang berarti benda tanpa ada yang berhak untuk dimilki siapapun secara pribadi.

Dari pemilikan bersama inilah lambat laun lahir dan berkembang hak milik pribadi dan perkembangannya itu berlangsung melalui 3 tahap :

*Fase pertama  : Mula-mula diantara anggota masyarakat diadakan perjanjian untuk memperoleh hak milik atas benda-benda yang diinginkan masing-masing dengan ketentuan bahwa seorang anggota masyarakat hanya boleh memiliki benda-benda yang diinginkannya bila benda-benda tersebut belum menjadi hak milik anggota yang lain (benda-benda yang belum bertuan). Pemilikan benda pada masa ini masih semata-mata bersifat jasmaniah tanpa didasari hak yuridis apapun. Karena itu pemilikan ini lebih dikenal sebagai pemilikan ‘alamiah’ atau ‘possesio naturalis’ akibatnya keadaaan kedudukan hak milik pada masa itu masih sangat lemah karena dasar mempunyai satu benda belum dapat dibuktikan atau dipertahankan secara yuridis karena bila seandainya terjadi pencurian, pemilik barang yang dicuri itu tidak dapat berbuat apa-apa meski ia tahu siapa pencurinya dan dimana barang itu berada berhubung hak miliknya atas barang tersebut sama sekali tidak dilindungi oleh hukum pada masa itu.

*Fase kedua : Pada tahap ini, hak milik pribadi atau perorangan telah lebih disempurnakan dalam hukum dimana selain hanya melalui penguasaan secara jasmaniah, hak milik seseorang atas suatu benda itu telah dapat pula dibuktikan/dipertahankan secara yuridis. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa disamping penguasaan jasmaniah, hak milik pribadi tersebut telah pula meliputi penguasaan yuridis sehingga selain perlindungan jasmaniah dari pemiliknya sendiri (misalkan melalui penyimpanan yang aman, penjagaan yang ketat dan sebagainya), hak milik seseorang atas suatu benda itu mendapatkan jaminan perlindungan pula dari hukum, sepanjang benda tersebut sendiri diperoleh pemiliknya melalui cara-cara yang tidak melawan hukum.

Akibatnya bila seandainya terjadi gangguan terhadap hak milik pribadi seseorang yang sah menurut hukum, maka hukum melalui tindakan para fungsionarisnya seperti Polisi, Jaksa, Hakim dan sebagainya dapat memberantas gangguan tersebut dengan jalan mengembalikan benda yang menjadi obyek hak milik yang terganggu kepada pihak yang berhak (pemiliknya) bila hal itu masih mungkin dilakukan; dan menindak tegas para pelaku pengganggu hak milik tersebut menurut peraturan hukum yang berlaku setempat pada waktu itu.

*Fase ketiga : Pada fase ini , hak milik pribadi atau perorangan telah berkembang ke dalam tahap yang lebih matang, karena kedudukan hak milik, penggunaannya, penguasaannya bahkan sampai pada penikmatan hasilnya dijamin penuh oleh hukum/undang-undang yang berlaku. Sejak tercapainya fase ini kian hari kian banyaklah benda-benda milik pribadi diseluruh dunia menandingi benda –benda milik negara sebagai organisasi masyarakat tertinggi.

Dalam hubungannya dengan hak milik, keadilan itu pada intinya berwujd sebagai ‘catur tunggal’ karena pada kenyataannya keempat macam keadilan itu saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain sehingga membentuk satu kesatuan pula, yang terdiri atas :

1. Keadilan senilai atau keadilan timbal balik yang biasa disebut juga keadilan dalam pertukaran (justitia connutativa).Contoh : keadilan yang melandasi :
a. jual beli
b. barter atau pertukaran barang-barang yang seharga
c. pertukaran antara barang dan jasa (sebagai prosedur perolehan milik melalui kerja berimbalan) dan sebagainya.

2. Keadilan dalam pembagian atau penyebaran (justitia distributive). Contoh pendermaan dana bantuan bagi fakir miskin baik berupa uang atau benda yang perlu dimiliki untuk memenuhi kebutuhan hidup primer mereka yang tidak mampu memenuhinya sendiri.

3. Keadilan berdasarkan Undang-undang (justitia legalis). Contoh : keadilan dalam pembayaran pajak kekayaaan atas bendamilik pribadi yang harus dibayaroleh pemiliknya yang biasanya diselaraskan dengan harga, manfaat dan keadaan benda yang bersangkutan, baik untuk benda yang tetap maupun benda yang bergerak/lepas. Demikian pula keadilan dalam hal pembayaran upah/gaji buruh yang tidak boleh lebih rendah dari batas minimum yang ditetapkan dalam undang-undang/peraturan pelaksanaannya agar dengan penghasilan tersebut buruh yang bersangkutan paling tidak dapt memperoleh pemilikan (masih mampu membeli) benda-benda kebutuhan hidupnya setidak-tidaknya sampai pada tingkatan primer, atau mungkin juga bisa mencapai tingkatan sekunder dan tertier melalui waktu yang relative lebih lama dan bekerja yang lebih lama dengan pengertian kebijaksanaan majikannya.

4. Keadilan social (justitia sosialis), yaitu suatu nilai takaran atau ukuran bagi masyarakat untuk menentukan dan mewujudkan keadilan menurut undang-undang dalam rumah tangga negara pada setiap situasi dan kondisi berdasarkan nilai-nilai pandangan hidup yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan.  

Jadi sekarang kalau kita pandang hak milik dan keadilan dalam suatu hubungan, menurut kesadaran hukum yang sehat, yang sesuai dengan fungsi murni hukum itu sendiri yakni untuk menempatkan eksistensi dan kedudukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai realitas lahir dan batin, maka dapatlah dibuktikan bahwa hak milik dan keadilan itu pada hakikatnya adalah satu dwitunggal yang tidak dapat dipisah-pisah, ataupun dicerai beraikan karena pada kenyataannyalah :

1. Hak milik selalu harus didasarkan pada keadilan dengan tujuan agar jangan sampai hak milik itu berlebihan dalam arti melampaui batas kelayakan menurut pandangan hidup, sehingga menimbulkan gambaran ketidakadilan adanya penumpukan hak milik di pihak yang satu dan terkurasnya hak milik di pihak yang lain seperti yang terjadi dalam aliran Kapitalisme.

2. Demikian pula sebaliknya, keadilan pun harus selalu mengakui dan melindungi hak milik, agar jangan sampai eksistensi hak milik itu terhapus oleh adanya pandangan hukum yang tidak sehat seperti dalam aliran Komunisme.

Berdasarkan jalan pandangan diatas terbuktilah dengan jelas, bahwa dimana ada hak milik disitu akan dan harus ada keadilan dan demikian pula sebaliknya, di mana ada keadilan disitu harus ada hak milik, sebagai hak pribadi penuh yang mencerminkan kemerdekaan manusia seutuhnya, dalam arti manusia yang sungguh-sungguh memegang haknya sebagai manusia tanpa menyalahgunakannya selaras dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk termulia yang diridhoi Allah Swt.  

3.PERKEMBANGAN KONSEP KELUARGA DAN SISTEM SOSIAL SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP KONSEP HUKUM

       Lajunya perkembangan hak milik pribadi di suatu negara bergantung pada faktor-faktor :
1.  Pendapatan perkapita penduduknya
2. Keadaan alamnya
3. Falsafah negara yang menjiwai kehidupan bangsa di negara itu
4. Berbagai latar belaknag yang khusus dari kehidupan bangsa yang bersangkutan.Misalkan sejarahnya, adat istiadatnya, agama dan kepercayaannya, kebudayaannya, dsb

            Karena keadaan faktor-faktor diatas berbeda antara satu negara dengan negara yang lain, maka masing-masing negara mempunyai pandangan sendiri-sendiri terhadap hak milik yang kadang bersamaan dan kadang pula berlainan dengan negara lainnya.

            Pada dasarnya yang dapat menjadi obyek hak milik seseorang secara pribadi ialah segala macam  benda yang diperlukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (beserta kebutuhan orang lain yang ditanggungnya, misal keluarganya, buruhnya yang langsung hidup dibawah tanggungannya, dsb)

            Tuntutan kebutuhan hidup yang dirasakan oleh orang-perorangan, terbagi 2 yakni :
1. Tuntutan kebutuhan yang bersifat absolut/umum yang berunsur mutlak, kekal dan universal berlaku bagi segala zaman
2. Tuntutan kebutuhan yang bersifat sementara, relatif, spesifik serta dipengaruhi oleh pekerjaan/kedudukan seseorang, keadaan alam geografis dan pergantian zaman.

            Yang jelas segala macam benda yang dapat dimiliki orang secara pribadi ialah, semua benda :
1. baik benda benda yang merupakan kebutuhan primer, sekunder dan tersier
2. baik benda-benda yang cara perolehannya cukup satu kali maupun yang harus berulang kali
3. baik benda-benda yang termasuk benda konsumsi atau produksi
4. baik benda-benda yang sedang dibutuhkan pada masa sekarang maupun benda-benda yang akan dibutuhkan pada masa-masa yang akan datang
5. benda-benda lainnya yang meskipun sebenarnya tidak diperlukannya atau terlepas dari kebutuhan hidupnya, sepanjang kepemilikan benda-benda tersebut tidak merugikan kepentingan orang lain dan tidak mengganggu kepentingan umum. (Yusuf Zainal)



Tuesday, December 11, 2012

CANTIK DALAM DESKRIPSI JINYOLOGI (1)

Kisah Pedang Gadis Yueh

*Si Shi (Xi Shi), wanita cantik dari kerajaan Yueh yang dihadiahkan kepada Raja Wu ialah Helena(1) versi Cina, Si Shi digambarkan bagai “sesosok wanita cantik yang tiada bandingannya dan dengan kecantikannya ampu mengguncang dunia. Wanita yang mampu menyatukan seluruh negeri Yueh di dalam diri seseorang. “wajah putih Si Shi dipenuhi air mata seperti mutiara dan suaranya lembut bagai arus sungai yang beriak (Pedang Gadis Yueh, hal 13). Jika Si Shi berjalan irama langkah-langkahnya jauh lebih memikat dibanding musik manapun, Fu Chai (Raja Wu) yang membangun istana ini memang dibuat dengan maksud agar irama langkah-langkah kaki Si Shi terdengar, suaranya yang lembut bagaikan bunyi mandolin atau harpa yang riang gembira (Pedang Gadis Yueh, hal 22).

Menteri Feng (menteri kerajaan Yueh) menceritakan dewi Hsiang Fei (Si Shi) pada Ah Cing, “matanya bening dan berkilauan laksana aliran air di pegunungan” Ah Cing menimpali “apakah dia punya ikan di matanya ? ”.

“Kulitnya seperti awan tetapi lebih putih” Ah Cing menimpali “adakah burung-burung yang terbang diantara awan itu ? ”

“Bibirnya lebih lembut dibandingkan untaian bunga dan berwarna kemerah-merahan. Bibirnya basah, lebih basah dibandingkan embun yang menempel di atas bunga ini. Saat Hsiang Fei berdiri di pinggir sungai, kecantikannya memantul di seluruh tepian sungai membuat bunga-bunga menjadi malu. Bahkan ikan-ikanpun takut berenang di air karena pantulan kecantikannya. Ketika tangan putihnya masuk ke sungai, tangan itu terlihat sangat lembut, bahkan hampir meleleh di dalam air”(Pedang Gadis Yueh, hal 19).

*Ah Cing (gadis dengan ilmu pedang yang sakti). Menteri Feng Li memperhatikan gadis itu (Ah Cing). Dia mempunyai muka bujur telur, bulu mata yang lentik dan panjang, kulit yang putih bersih. Mukanya cantik dan badannya langsing, bahkan terlihat lemah gemulai (Pedang Gadis Yueh, hal 15). Ah Cing yang sedang duduk dekat disisinya dan mendengarkan dia dengan baik, matanya yang indah dan besarnya yang tidak pernah meninggalkan mukanya (Pedang Gadis Yueh, hal 19).

Diceritakan pula ketika kecantikan Ah cing dikomparasikan dengan Si Shi.

Ah Cing menodongkan tongkat bambunya ke arah Si Shi. Wajahnya berada persis di depan wajah Si Shi. Hawa pembunuhan yang mengamuk di wajahnya pelan-pelan menghilang, diganti rasa kecewa, dan hilangnya rasa percaya diri, lalu berubah menjadi keheranan, rasa hormat dan akhirnya pujian. Dia berbisik, “Lihat...lihat kecantikan yang sesungguhnya di kolong langit ! Feng Li, dia bahkan lebih...lebih cantik dibandingkan yang kau ceritakan” (Pedang Gadis Yueh, hal 23).



[1] Helena dari Troya, terkenal sangat cantik dan menyebabkan perang besar antara Troya dan Yunani.

Monday, December 10, 2012

Seks Dalam Budaya Di Nusantara


Hubungan seks zaman dulu di nusantara konon dikaitkan dengan kesuburan bumi maupun kemakmuran rakyat, lebih khusus lagi kalangan keraton. Seorang raja yang menunjukan kehebatan dan potensi besar seksual maka kerajaan akan kuat dan makmur. Banyaknya anak dan keturunan sebagai perlambang kesuburan rakyatnya. Paku Buwono X yang memiliki puluhan anak dan ratusan cucu sering dinilai sebagai raja terbesar tanah Jawa.

Simbol-simbol seksualitas tersebar pada berbagai peninggalan tradisional, pemujaan pada lingga, yoni, hubungan seksual dan alat kelamin dianggap sebagai simbol pusaka. Di Candi Sukuh, alat kelamin laki-laki (Raja) dipahatkan di bagian depan pintu gerbang dan di belakangnya ada pahatan Vagina (Ratu), keduanya merupakan pusaka dan gambaran magis ketimbang pornografi.

Nuansa Hindu-Budha

Keraton Surakarta dengan tari Bedaya Ketawang dan Yogyakarta dengan tari Bedaya Semang sebagai memperingati dan mengaktualisasikan hubungan dengan Ratu samudera. Tarian yang dilakukan sembilan penari perempuan yang dalam keadaan suci (perawan), konon orang kadang melihat penari kesepuluh yang tercantik tiba-tiba ikut menari, mitos yang beredar adalah Nyi Roro kidul.

Adapun filosofi sembilan penari ini sebagai pelambang sembilan dewi yang menyertai dewa tertinggi (Syiwa) dalam sebuah konfigurasi keadaan berhubungan seks. Syiwa dikenal sebagi dewa yang menonjol bertapa dan potensi seksualnya. Kakawin Swaradahana menceritakan bahwa anak yang sakti dari dewa ini terwujud setelah Syiwa dan Dewi Parwati melakukan hubungan seks (diselingi makan dan minum) selama bertahun-tahun.

Dalam Vajrayana hubungan seks menjadi jalan kepada Mahasukha atau kebahagiaan agung yang didasari oleh pemahaman dan penghayatan akan kebenaran yang bersifat transenden. (Yusuf Zainal)

Antara China & Nepal

Himalaya Mountain 
Konsep Komunisme ala Mao masih digiatkan oleh gerilyawan Maois di Nepal, sedangkan di china sendiri justru sudah bergerak ke arah liberalisasi. Jika Mao Zedong, founding Father  Komunis China mendapat pengikut fanatik yang sampai menjangkau negeri semenanjung himalaya itu, maka Sidharta Gautama adalah putera Nepal yang ajarannya malah lebih populer di china.

Kedua-duanya, Maois di Nepal mendapat resistansi keras dari pemerintah Nepal, Budhisme di china juga tidak lebih dari gerakan moral ditengah-tengah penetrasi sekulerisme China. (Yusuf Zainal)

Sampah Evolusi



Sejarah asal usul manusia yang dipegang saintis ialah tercipta dengan evolusi, yakni dari peristiwa tumbukan awal (Teori Bigbang), unsur-unsur yang tercipta ialah alam ini dan DNA (Deoxyribonucleic Acid) yang menjadi awal mula pembentuk spesies-spesies yang setelah diklasifikasikan salah satu diantara adalah manusia (homo sapiens).


Oleh karenanya banyak peneliti yang menggeluti ilmu biologi, khususnya genetika yang bertolak dari sudut pandang Darwinisme (pengikut Charles darwin) menganggap DNA manusia dan organisme lainnya sekitar 98 % tidak ada fungsinya. Organ yang termasuk diantaranya usus buntu, amandel, kelenjar pituari dan sebagainya. Penelitian yang telah dilakukan memvonis bahwa DNA ini adalah “sampah proses evolusi”. Kemudian menjadi pandangan yang baku.


Namun, sekali lagi asumsi yang dipengaruhi Darwinisme ini harus direvisi lagi. Baru-baru ini, para ilmuwan telah mendapati bahwa sampah evolusi ini berperan sangat penting dalam tubuh dan menghasilkan bentuk khusus RNA (asam ribonukleat) yang vital untuk kehidupan. John S Mattick, direktur institut untuk biosains molekuler di university of Quensland, Australia, dia mengemukakan bahwa teori “DNA sampah evolusi” sebagai kekeliruan terbesar dalam sejarah biologi molekular. Dus bukankah lebih bijaksana jika kita mengatakan bahwa DNA memiliki perancang yang Mahacerdas ?    

Wednesday, October 19, 2011

RAKIT – KEBENARAN MULIA KEEMPAT: JALAN MENUJU AKHIR DUKKHA

Seorang laki-laki yang sedang kabur dari kejaran perampok sampai di sebuah tepian sungai.Dia menyadari bahwa seberang sungai sana akan lebih aman untuknya. Namun, sayangnya dia tidak melihat sebuah perahu atau jembatan untuk menyeberangi sungaitersebut.Jadi secepat kilat dia mengumpulkan kayu, batang, ranting, dan dedaunan untuk dijadikan sebuah rakit.Dan dengan bantuan rakit tersebut, dia akhirnya dapat menyeberang dengan selamat ke seberang sungai.(What Should We Know About Buddhism, by : Upa. Sasanasena Seng Hansen)

JEBAKAN MONYET – KEBENARAN MULIA KEDUA : SEBAB DUKKHA

Di Cina, monyet-monyet ditangkap dengan sebuah cara yang unik.Si pemburu pertama-tama akan mengambil sebuah kelapa.Dia kemudian membuat sebuah lubang yang hanya cukup bagi sebuah tangan masuk kedalamnya tanpa menggenggam apapun.Dia kemudian akan mengisi kelapa tersebut dengan kacang-kacangan dan meletakkannya di tempat-tempat yang biasa dilalui monyet.Sebelum pergi, si pemburu akan menyebarkan beberapa kacang disekitar kelapa.Cepat atau lambat, seekor monyet akan melalui tempat tersebut.

Pertama-tama si monyet akan memakan kacang yang ada ditanah.Kemudian si monyet akan menemukan bahwa di dalam kelapa terdapat lebih banyak kacang.Ketika dia memasukkan tangannya dan menggenggam kacang-kacang tersebut, si monyet akan kesulitan mengeluarkan tangannya.Dipaksa bagaimanapun juga tidak bisa keluar.Si monyet kemudian mulai menangis atau marah.Namunkarena tidak melepas genggamannya, tak lama kemudian si pemburu datang dan menangkapnya.(What Should We Know About Buddhism, by : Upa. Sasanasena Seng Hansen)

Saturday, October 15, 2011

KISA GOTAMI – KEBENARAN MULIA PERTAMA: DUKKHA

Kisa Gotami adalah seorang wanita muda dari keluarga kaya raya yang juga seorang istri dari seorang pedagang kaya. Ketika berusia sekitar setahun, anak laki-lakinya tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal.Larut dalam kesedihan, Kisa Gotami berkeliling dari rumah ke rumah dan memohon kepada setiap orang yang dia jumpai kalau ada yang bisa membangkitkan anaknya kembali. Tentu tidak ada seorang pun yang bisa menyanggupi permohonannya.

Akhirnya dia bertemu dengan seorang penganut ajaran Buddha dan menyuruhnya untuk menemui Buddha Gautama. Ketika Kisa Gotami membawa bayi yang telah meninggal tersebut ke hadapan Sang Buddha, Buddha Gautama berkata padanya: “Hanya terdapat satu cara utuk menyelesaikan masalahmu.Pergi dan bawalah lima benih dari keluarga yang belum pernah ada satu anggota keluarganya pun yang telah meninggal.” Kisa Gotami beranjak pergi dan bertanya dari rumah ke rumah namun tidak ada satu keluarga pun yang belum pernah mengalami kematian dari anggota keluarganya. Menyadari maksud Sang Buddha, Kisa Gotami akhirnya kembali menemui Sang Buddha dan menjadi biksuni.(What Should We Know About Buddhism, by : Upa. Sasanasena Seng Hansen)

Saturday, September 10, 2011

Hikmah Ramayana

Epos Ramayana adalah salah satu warisan peradaban dunia.Bersama Mahabharata, keduanya adalah bagian dari mitologi India dan tradisi Hindu.Kisah besar ini bukanlah sekedar sejarah atau biografi, bahkan pujangga besar yang menulisnya juga tidak mengarang sendiri.Mereka hanya merangkai jalinan-jalinan memori masyarakat yang sarat nilai kehidupan, spritualitas, budaya yang berasaskan pada semangat para pendahulu yang menginginkan kebaikan ketimbang kesenangan yang semu karena mereka dapat melihat lebih banyak misteri kehidupan.

Sebagaimana pentingnya mitologi Yunani bagi peradaban Eropa, kitab suci Qur’an bagi masyarakat muslim, Al Kitab bagi masyarakat Yahudi dan Kristen.Tanpa memahami Ramayana dan juga Mahabharata, kita tidak akan bisa memahami struktur peradaban dan sosial bangsa India, salah satu peradaban terbesar dan tertua dunia.
Setiap kebudayaan besar dan agama membutuhkan mitologi, disinilah Ramayana dan Mahabharata menempati posisi yang tinggi yakni sebagai elemen mitologi disamping falsafah dan ritual, orang tidak mengenal dharma Hindu tanpa mengenal Rama, Shinta, Hanoman, Rahwana, Kumbakarna, Pandawa, Krisna maupun Kurawa.Semua itulah yang melestarikan cita rasa agama dan bangsa terlebih demi fondasi spiritual yang stabil mencerahkan kehidupan.

Kisah Ramayana dimulai dengan kunjungan Resi Batara Narada ke asrama Walmiki di suatu pagi.Setelah memberikan salam, Walmiki bertanya,”Batara yang tahu segalanya, siapakah pahlawan dunia yang paling berbudi luhur dan bijaksana ?”

Dengan kekuatan supranatural, Narada tahu alasan Walmiki menanyakan pertanyaan itu.Ia pun menjawab, “Ia dilahirkan dalam dinasti titisan Batara Surya.Sekarang, ia menjadi penguasa Ayodya.” Kemudian Resi Narada menceritakan kisah Rama pada Walmiki.Walmiki amat terkesan dengan ceritanya sehingga ia terus merenungkan cerita itu.

Di suatu saat ketika Walmiki pergi ke sungai Tamasa untuk membersihkan diri guna melakukan sembahyang pagi, di pinggiran sungai ia melihat sepasang burung yang sedang bermain asmara sambil berkicau indah.Tiba-tiba, si burung jantan tumbang ke tanah setelah panah pemburu mengenainya.Akhirnya sang burung betina pergi dengan menangis pilu.

Menyaksikan semua itu, Walmiki mengutuk dengan keras sang pemburu,”Hai pemburu karena kau telah membunuh burung yang sedang berasmara, maka kau akan mengembara tanpa rumah sepanjang hidupmu.”

Tak lama kemudian amarah sang Resi mereda, ia pun menyesal telah terbawa amarah,”Apa hakku mengutuk pemburu itu ? mengapa aku biarkan diriku dikendalikan emosi ? ”

Ketika merenungkan kutukannya, sang resi menyadari keindahan irama kutukan itu.Ia menyadari bahwa rasa kasihan (soka) yang melandanya telah berbuah sloka (syair) yang sangat indah.Resi kemudian berpikir bahwa semua ini adalah bagian dari rencana dewata yang misterius.

Ketika sang Resi Walmiki bermeditasi meminta petunjuk, maka ia berjumpa Dewa Brahma yang bermuka empat.Brahma berkata,”Jangan takut.Semua itu terjadi supaya engkau menulis kisah Rama.Kedukaan (soka) melahirkan syair (sloka).Engkau haruss menulis kisah itu dengan birama dan irama seperti itu.Aku akan memberimu penampakan untuk melihat mereka sejelas engakau melihat apa yang ada di telapak tanganmu.Dan, dengan restuku, engkau mendaraskan syair ini demi kebaikan seluruh dunia.”

Walmiki beserta murid-muridnya kemudian mendaraskan Ramayana, sebagaimana yang digariskan Brahma,”Selama gunung-gemunung tetap berdiri tegak dan sungai-sungai mengalir.Ramayana akan terus dikisahkan demi menegakkan dharma menyelamatkan manusia dari dosa.” (yusuf zainal)