Tuesday, March 11, 2014

Eksistensi jiwa setelah kematian ?

Apakah eksistensi jiwa hanyalah sebuah mitos ataukah ada dalam kenyataannya ? sebagian ilmuwan menyatakan dari sudut pandang ilmiah (fisikal) bahwa kehidupan setelah kematian bagi manusia adalah tidak mungkin, maka satu-satunya cara adalah bertanya kepada mereka yang pernah mengalami kematian. Beberapa dokter seperti Raymond Moody, Ken Ring dan Bruce Gregson yang memeriksa pasien yang mengalami ‘hidup kembali’ dari kematian.

Namun jika jiwa adalah esensi manusia maka kebergantungan tubuh kepadanya niscaya ketimbang sebaliknya. Pengalaman kematian, yang menjelaskan kehidupan setelah kematian bisa datang dari NDE (near death experience). Dalam pada itu, ada baiknya juga dihubungkan dengan kapasitas tidur.

Rapid eye movement (REM) :

Berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan (1) tidur paling ringan atau setengah sadar; (2) tidur lebih dalam; (3) tidur paling dalam; (4) mimpi; adapun mimpi adalah pemenuhan jiwa pada hasrat-hasrat fisik atau mental emosional yang belum terpenuhi di masa sadar (Yusuf Zainal)

Malfungsi tidur : narcolepsy (serangan tidur mendadak), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, depresi, sleep paralysis (tindihan). 


Kematian didefinisikan sebagai “seseorang yang semua fungsi otaknya benar-benar terhenti tanpa bisa dipulihkan lagi termasuk batang otak” (Komite pusat utuk kajian problem-problem moral danprilaku (kode etik) Fakultas Kedokteran Harvard University, tahun 1981) 

Cara memperoleh pengetahuan : (1) panca indera; (2) perasaan-akal praktis; (3) intelek-akal teoritis; (4) intuisi & mimpi; (5) wahyu;

Ilmuwan As, Ado Snandick berpendapat “mata manusia tidak dapat melihat keberadaan suatu benda dalam ruangan lain, itulah obyektifitas keberadaan lorong waktu. Dalam sejarah, orang, benda dan lain-lain yang hilang secara misterius adalah masuk kedalam lorong waktu.

John Buckally mengemukakan teori hipotesanya, (1) obyektifitas keberadaan lorong waktu adalah bersifat kematerialan/fisikal, tidak terlihat, tidak dapat disentuh, tertutup untuk dunia fana kehidupan umat manusia, namun tidak mutlak, (2) lorong waktu diluar sistem waktu, lorong waktu dapat bersifat searah, berlawanan arah, berbalik, lurus, bahkan diam, (3) terhadap dunia fana (ruang fisik) di bumi maka konsekuensinya ditempuh secara misterius. Dalam Buddhisme ada peribahasa “bagaikan sehari di kahyangan tapi rasanya sudah ribuan tahun di bumi”

Otak, kulit bagian atas (neo korteks) ialah yang memberikan sifat-sifat diri, identitas dan kemampuan melakukan tindakan, kulit bagian bawah demi mengontrol fungsi-fungsi fisik otak (keseluruhannya) bertanggungjawab atas kontrol fungsi entitas hidup secara keseluruhan.  
     
Mekanisme kinerja jantung-otak-jiwa  : (1) Otak mengikat jantung (hubungan dengan alam fisik) (2) Otak mengikat jiwa (hubungan dengan alam spiritual) (Yusuf Zainal)

1 comment: